Budaya dan adat

Budaya dan adat di Desa Pengotan sangat kental terasa karena Desa Pengotan ini merupakan desa purba dan termasuk Desa Bali Aga. Mulai dari arsitektur rumah, ngaben massal, nikah massal dan beberapa prasasti.

1. Rumah  

Rumah adat tradisionalnya tetap memegang teguh aturan kosala-kosali (aturan letak bangunan). Setiap pekarangan rumah, memiliki bale daja (bangunan yang terletak di utara), bale dauh (di barat), dan bale delod (di selatan). Setiap rumah warganya memiliki Angkul-angkul (pintu masuk rumah) yang berbentuk sama.  Bambu, sebuah tanaman khas yang juga menghiasi pekarangan rumah. Bambu merupakan tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan kerajinan, sebagai oleh-oleh wisatawan usai menikmati desa.

Bale di Dusun Delod Umah, Pengotan sangat unik. Bale Daja ditopang empat adegan (tiang) sebagai penyangga genteng. Mempunyai sebuah pintu masuk dan dua buah jendela. Ruangan besar di bale daja memiliki beragam fungsi, mulai dari tempat beristirahat, tempat memuja para leluhur, memasak dan menerima tamu.

galeri8

 

Gambar Rumah Adat Desa Pengotan

2. Cagar Budaya

Berdasarkan Pasal 1 UU RI No. 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya disebutkan bahwa cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Terdapat Prasasti Pengotan AI dan Prasasti Buayang atau Prasasti Pengotan D.

Prasasti Buayang / Prasasti Pengotan D terdiri dari lima lempeng tembaga bertulis berserta satu lempeng tembaga tanpa tulisan yang menjadi kulit prasasti tersebut. Dari lima lempeng prasasti ini, dua lempeng memuat nomor halaman yakni nomor halaman satu yang bertuliskan pada satu sisi, dan yang satu lagi memuat nomor halaman dua. Sedangkan tiga lempeng lainnya tanpa nomor halaman. Untuk mempermudah menyebut tiga lempeng lainnya, diberi nomor Q, Y, Z mengikuti sistem penomoran R. Goris.

Prasasti Buayang atau Pengotan D dikeluarkan oleh Sri Raja Jayapangus pada hari Rabu Pahing Maulu Wuku Wayang pada tanggal 9 paruh terang Bulan Srawana pada tahun 1103 Saka. Oleh raja telah diputuskan batas-batas wilayah di selatan berbatasan dengan Parigi, di barat dengan Umalangit, di utara dengan Jalunut, Bunut,Ror Geri Tali dan Beru. Selanjutnya disebutkan bahwa setiap kepala keluarga dikenakan iuran 1 kupang, beras dan cabai. Dibalik itu mereka dibebaskan dari beberapa jenis iuran seperti pajak pemeliharaan ternak, pajak perburuan, iuran saat tilem, serta berbagai macam iuran lainnya. Secara implisit disebutkan tentang kayu larangan antara lain beringin, mende dan bodi. Seperti prasasti lengkap pada umumnya, disebutkan mengenai para pejabat  kerajaan yang hadir sebagai saksi saat prasasti ini ditahtakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s